Friday, May 08, 2009

12 Warga Sipil Tewas Dalam Serangan Bom Bunuh Diri di Afghanistan


Kabul (ANTARA News/AFP) - Pemboman bunuh diri di sebuah pasar yang ramai di Afghanistan selatan menewaskan 12 warga sipil dan mencederai 32 orang, Kamis, dalam serangan yang ditujukan pada pasukan asing, kata seorang pejabat pemerintah.

Polisi mengatakan, dua prajurit asing anggota Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO juga terluka dalam serangan itu, yang terjadi di provinsi Helmand, namun hal itu masih belum bisa dikonfirmasi oleh ISAF.(*)

Perompak Somalia Tembaki Kapal AL AS

08/05/09 00:21
Manama (ANTARA News/Reuters) - Perompak melepaskan tembakan senjata ringan ke kapal perbekalan Angkatan Laut AS di lepas pantai Somalia timur, dalam serangan pertama semacam itu sejak gelombang serangan bajak laut tahun lalu, kata AL AS, Kamis.

Kapal USNS Lewis and Clark diburu selama sekitar satu jam pada Rabu pagi oleh dua kapal perompak, namun tidak satu pun berhasil mendekat lebih dari satu mil laut ke kapal AS itu, kata Armada Kelima Angkatan Laut AS dalam sebuah pernyataan.

Tembakan-tembakan senjata ringan mereka sangat jauh dari jangkauan ke kapal AS yang menjadi sasaran, yang segera bergerak untuk menghindari kapal-kapal kecil perompak tersebut.

Kapal USNS Lewis and Clark sebelumnya berfungsi menjadi fasilitas penahanan sementara bagi tersangka perompak yang ditangkap di laut, namun operasinya kini dibatasi untuk mengangkut perbekalan bagi kapal-kapal lain AS yang beroperasi di kawasan tersebut.

Perompak Somalia meningkatkan kegiatan mereka dalam beberapa pekan ini, tanpa peduli kehadiran angkatan laut internasional di wilayah perairan tersebut.

Ada 97 usaha serangan terhadap kapal-kapal dagang di Teluk Aden pada 2009, 27 diantaranya berhasil, menurut keterangan Angkatan Laut AS.

Dalam insiden terakhir pada Kamis, bajak laut Somalia menahan sebuah kapal dagang kecil Belanda bersama sedikitnya delapan orang awaknya di Teluk Aden.

Serangan-serangan perompak telah mengganggu pengiriman bantuan PBB, mendorong peningkatan ongkos asuransi dan membuat sejumlah perusahaan memilih rute pelayaran antara Eropa dan Asia dengan melewati daerah sekitar Afrika Selatan.

Armada angkatan laut dari AS, Eropa dan Asia telah dikerahkan di kawasan itu untuk melindungi kapal-kapal dagang.

Perairan di lepas pantai Somalia merupakan tempat paling rawan pembajakan di dunia, dan Biro Maritim Internasional melaporkan 24 serangan di kawasan itu antara April dan Juni tahun lalu saja.

Pembajakan oleh perompak Somalia sebelumnya dikabarkan menurun pada 2009 setelah angkatan laut internasional mulai melakukan patroli di kawasan perairan yang ramai di Teluk Aden. Namun, aksi mereka meningkat lagi saat ini.

Tahun lalu perompak telah membuat kawasan Teluk, yang menghubungkan Eropa dengan Asia dan Timur Tengah melalui Terusan Suez, menjadi tempat pelayaran paling berbahaya di dunia. Puluhan kapal dibajak dan puluhan juta dolar dibayar sebagai tebusan bagi pembebasan sejumlah kapal.

Beberapa ahli keamanan mengatakan, meski operasi-operasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Uni Eropa (EU) untuk sementara bisa menangkal aksi perompak dan menjamin jalur aman bagi pelayaran kapal, masalah pembajakan yang telah membuat beaya asuransi melonjak itu tidak akan terpecahkan sampai aturan hukum ditegakkan lagi di Somalia.

Somalia dilanda pergolakan kekuasaan dan anarkisme sejak panglima-panglima perang menggulingkan diktator militer Mohamed Siad Barre pada 1991. Penculikan, kekerasan mematikan dan perompakan melanda negara tersebut.(*)

Thursday, May 07, 2009

Afghanistan, Pakistan in new anti-militant front: Obama

05/07/09 06:44
by Stephen Collinson

Washington (ANTARA News/AFP) - President Barack Obama Wednesday said the leaders of Pakistan and Afghanistan had forged a new front against extremists, but Afghan deaths in US raids cast a pall over a high-stakes summit here.

Obama gathered Afghan President Hamid Karzai and Pakistani leader Asif Ali Zardari for one-on-one talks, and a trilateral summit, hoping to ease years of mistrust between the neighbors in the name of defeating the Taliban.

"I'm pleased that these two men, elected leaders of Afghanistan and Pakistan, fully appreciate the seriousness of the threat that we face, and have reaffirmed their commitment to confronting it," Obama said.

Secretary of State Hillary Clinton meanwhile said the talks, which will continue at cabinet level Thursday, were showing "very promising early signs."

Obama called the three-way meetings as he pushes for a combined drive between Pakistan and Afghanistan to crush the Taliban and Al-Qaeda.

For his part Zardari is seeking US military aid and political support, while Karzai hopes to purge Taliban havens in Pakistan, which are destabilizing his country.

The talks came amid fresh waves of deadly clashes in Pakistan's Swat valley in which the military said it had killed more than 80 militants in an upsurge of fighting on Wednesday.

Pakistan's cash-strapped government was making emergency preparations to shelter up to 500,000 people expected to flee Swat and local officials said tens of thousands had already left the district's main town.

The talks also coincided with fresh reports from Afghan police that US-led air strikes targeting insurgents had killed 100 people, most of them civilians, in one of the deadliest battles in nearly eight years.

The US military opened an investigation into the operation overnight Monday in the remote western province of Farah, and Karzai ordered his government to probe reports of high civilian casualties.

"I made it clear that the United States will work with our Afghan and international partners to make every effort to avoid civilian casualties," Obama said after talks with the two presidents.

Clinton, who met the two leaders before Obama, also added condolences.

"I wish to express my personal regret and certainly the sympathy of our administration on the loss of civilian life in Afghanistan," she said.

"We deeply regret it. We don't know all of the circumstances or causes. And there will be a joint investigation by your government and ours," Clinton told Karzai.

But Clinton also expressed hope the Washington talks would renew the battered joint effort to combat extremism.

"I am very optimistic that this process is making a difference," Clinton said, though she added she was aware that a few meetings could not on their own solve the myriad of issues confronting the two nations.

"Both presidents spoke very movingly about the threat and dangers of terrorism," Clinton said, adding she was "extremely impressed" by the candor of the two leaders and their delegations.

Clinton said on Wednesday she was impressed with recent efforts by Pakistan to fight extremism, following her recent harsh criticisms of its conduct.

"Well, I'm actually quite impressed by the actions that the Pakistani government is now taking," Clinton said, adding there was a "resolve going forward" in Islamabad's struggle against the Taliban.

Last month, Clinton warned that Pakistan was "abdicating" to the Taliban by allowing extremists to impose Islamic law in parts of the country.

Ten days ago, Pakistan launched offensives in Buner and Lower Dir districts to flush out advancing armed Taliban.

Islamabad had been heavily criticized for a February deal which put three million people in the northwest under sharia law in a bid to end an uprising, which instead saw the Taliban push further south towards the capital.

Zardari sounded a strong note of support for the common fight against insurgents.

"We stand with our brother Karzai and the people of Afghanistan against this common threat, this menace, which I have called a cancer," Zardari said.

He said Pakistan bore a "huge burden" in fighting both the Taliban and Al-Qaeda, but added "we are up to the challenge because we are the democracy and democracy is the only cure to this challenge."(Ant)

35 Militan Tewas Dalam Serangan Pasukan Pakistan di Swat

Islamabad (ANTARA News/AFP) - Pakistan menyatakan, 35 militan tewas Rabu dalam operasi militer di Lembah Swat di wilayah baratlaut -- pertempuran paling mematikan di distrik itu sejak sebuah perjanjian perdamaian ditandatangani pada Februari.

"Ada 35 militan yang tewas di daerah dekat tambang zamrud itu," kata jurubicara militer Mayjen Athar Abbas kepada AFP.

"Itu merupakan aksi balasan setelah militan menyerang pasukan dan bangunan pemerintah," tambahnya.

Seorang pejabat militer di daerah tersebut mengatakan, militan-militan itu tewas dalam serangan darat dan udara di lembah yang pernah menjadi tujuan wisata itu. Swat terletak di Pakistan baratlaut dimana kelompok garis keras Taliban mengobarkan pemberontakan berdarah selama dua tahun.

"Kami menggunakan meriam dan helikopter untuk melakukan pemboman dan kemudian mengerahkan pasukan kami ke daerah tersebut," kata pejabat itu, yang menegaskan bahwa daerah tambang itu telah dikuasai kembali.

Ada laporan-laporan mengenai kematian warga sipil dalam pertempuran Rabu, namun pejabat itu menyatakan tidak memiliki penjelasan terinci lebih lanjut.

Pejabat-pejabat setempat mengatakan, lebih dari 40.000 orang meninggalkan kota utama Swat, Mingora, dalam 24 jam terakhir ketika pertempuran berkobar.

Pasukan keamanan Pakistan akhir bulan lalu melancarkan dua ofensif militer, di Lower Dir dan Buner, daerah-daerah dekat Swat dimana gerilyawan bersenjata Taliban berusaha mendorong pemberlakuan hukum Islam.

Sebuah pernyataan militer mengatakan, serangan-serangan militan terhadap pasukan keamanan di Swat merupakan "pelanggaran berat" atas perjanjian perdamaian dan empat prajurit teweas dalam pertempuran di Swat sejak Selasa.

Serangan-serangan militan di Pakistan, negara sekutu penting AS, menewaskan lebih dari 1.700 orang di negara itu, terutama di kawasan suku baratlaut, sejak Juli 2007.

Kawasan suku Pakistan, terutama Bajaur, dilanda kekerasan sejak ratusan Taliban dan gerilyawan Al-Qaeda melarikan diri ke wilayah itu setelah invasi pimpinan AS pada akhir 2001 menggulingkan pemerintah Taliban di Afghanistan.

Pemimpin Al-Qaeda di Pakistan dan deputinya tewas pada 1 Januari dalam serangan udara yang diduga dilakukan pesawat tak berawak AS di Waziristan Selatan, menurut sejumlah pejabat keamanan setempat.

Para pejabat yakin bahwa Usama al-Kini, yang disebut-sebut sebagai pemimpin operasi Al-Qaeda di Pakistan, mendalangi serangan bom truk terhadap Hotel Marriott di Islamabad pada September lalu, dan memiliki hubungan dengan serangan-serangan bom pada 1998 terhadap Kedutaan Besar AS di Afrika.

Pasukan Amerika menyatakan, daerah perbatasan Pakistan digunakan kelompok militan sebagai tempat untuk melakukan pelatihan, penyusunan kembali kekuatan dan peluncuran serangan terhadap pasukan koalisi di Afghanistan.

Pakistan mendapat tekanan internasional yang meningkat agar menumpas kelompok militan di wilayah baratlaut dan zona suku di tengah meningkatnya serangan-serangan lintas-batas pemberontak terhadap pasukan internasional di Afghanistan.

Pakistan menempatkan sekitar 120.000 prajurit di sepanjang perbatasan itu dan menekankan bahwa tanggung jawab menghentikan penyusupan juga bergantung pada pasukan keamanan yang berada di Afghanistan.

Menurut militer Pakistan, lebih dari 1.500 militan tewas sejak mereka melancarkan ofensif di Bajaur pada awal Agustus, termasuk komandan operasional Al-Qaeda di kawasan itu, Abu Saeed Al-Masri yang berkebangsaan Mesir.

Daerah itu juga dihantam serangan rudal yang hampir mengenai Ayman al-Zawahiri, orang kedua Osama bin Laden, pada Januari 2006.

Terdapat sekitar 70.000 pengungsi Afghanistan di Bajaur, yang tinggal di sana sejak akhir 1970-an setelah mereka melarikan diri dari invasi Uni Sovyet ke Afghanistan.(*)

Wednesday, May 06, 2009

Tentara Georgia Memberontak, Pemerintah Tuduh Rusia

06/05/09 06:16
Tbilisi (ANTARA News/AFP) - Tentara Georgia hari Selasa melancarkan pemberontakan pada malam pelatihan NATO di bekas republik Uni Sovyet itu, yang pemerintah katakan berakhir tanpa kekerasan, tapi menuduh Rusia mendukung pemberontak tersebut.

Batalion tank di pangkalan Mukhrovani di pinggir kota Tbilisi, ibukota negara Georgia, berontak, kata pejabat.

Pemberontak itu merencanakan membunuh Presiden Mikheil Saakashvili, kata jurubicara kementerian dalam negeri Shota Utiashvili.

"Sudah selesai. Kebanyakan sudah menyerah, termasuk komandan batalionnya. Beberapa orang kabur," kata Utiashvili kepada kantor berita Prancis AFP, "Tidak ada kekerasan atau semacamnya."

Beberapa belas kendaraan lapis baja dilaporkan menuju pangkalan Mukhrovani, sekitar 25 kilometer dari Tbilisi, kata televisi Georgia.

Saakashvili menyebutnya "pemberontakan besar-besaran", tapi televisi Rustavi-2 melaporkan bahwa presiden pergi secara pribadi ke pangkalan itu untuk berunding dengan pemberontak tersebut.

Tuduhan keterlibatan Rusia, yang dengan marah dibantah di Moskwa, memicu kembali ketegangan diplomatik, yang tetap tinggi sejak perang lima hari di antara tetangga itu pada Agustus 2008.

Menteri Pertahanan David Sikharulidze menyatakan "pemberontakan" itu untuk "mengganggu pelatihan persekutuan pertahanan Atlantik utara NATO dan menggulingkan pemerintah secara ketentaraan".

Kementerian dalam negeri menyatakan mengungkap persekongkolan untuk "pemberontakan bersenjata" di antara satuan kementerian pertahanan dan Rusia terlibat.

"Rencana itu digalang dengan Rusia, sedikit-dikitnya untuk mengganggu pelatihan tentara NATO dan sebesar-besaranya untuk menggalang pemberontakan besar-besaran tentara di Georgia," kata jurubicara kementerian dalam negeri itu.

"Kami punya keterangan bahwa pemberontak itu berhubungan langsung dengan orang Rusia, bahwa mereka mendapat perintah dari mereka, bahwa mereka menerima uang dari mereka," katanya.

Utiashvili menyatakan dua tersangka ditangkap dan komplotan itu mencakup rencana membunuh Saakashvili.

"Rencana itu berisi pemberontakan besar-besaran di Tbilisi dan mengambilalih kedaulatan Georgia serta kesatuan pemerintah Georgia dengan Eropa dan Euro-Atlantik," kata Saakashvili dalam pidato televisi.

"Keadaan terkendali. Ada ketertiban dan ketenangan di semua satuan lain tentara," kata Saakashvili.

"Saya menuntut tetangga utara kami menahan diri dari penghasutan," tambahnya.

Utusan Rusia untuk NATO, Dmitry Rogozin, mengatakan kepada kantor berita Interfax bahwa tuduhan terhadap Moskwa itu "gila".

"Kami secara perlahan terbiasa pada tuduhan gila dari pemimpin politik dan tentara Georgia," katanya, "Yang terjadi sekarang keruntuhan mutlak tentara dan negara Georgia."

Tuduhan Georgia menunjukkan "hayalan sakit" pemimpin Tbilisi, kata pejabat tertinggi kementerian luar negeri Rusia kepada Interfax.

Georgia mengalami keguncangan politik pada beberapa pekan terkini dengan kelompok lawan mencoba memaksa Saakashvili mundur.

Pendukung lawan berunjukrasa di ibukota itu selama hampir sebulan menuntut undur-dirinya.

Pelaksana unjukrasa akan mulai upaya baru menutup jalan utama pada Selasa, tapi wanita jurubicara lawan, Sopho Jajanashvili, menyatakan tindakan itu dibatalkan.

Pemimpin lawan akan membuat pernyataan atas kegentingan itu.

Georgia akan mengadakan pelatihan NATO sejak Rabu, yang dikutuk Rusia sebagai memanas-manasi.

Pelatihan perang sebulan akan melibatkan lebih dari 1.100 tentara dari lebih dari selusin negara NATO dalam komando "tanggap bahaya" dan pelatihan lapangan.

Georgia dan Rusia bertempur lima hari pada tahun lalu untuk Ossetia Selatan, wilayah sempalan Georgia.(*)

Tuesday, May 05, 2009

Empat Tewas Dalam Serangan Bom Mobil di Pakistan

Peshawar, Pakistan, (ANTARA News) - Seorang pelaku serangan bom bunuh diri menabrakkan mobilnya ke dalam satu pos pemeriksaan polisi di dekat kota Pakistan, Peshawar, menewaskan sedikitnya empat petugas keamanan, kata polisi.

Serangan tersebut terjadi di perbatasan Peshawar dan Khyber, satu wilayah suku yang bergolak di perbatasan dengan Afghanistan.

"Pelaku bom bunuh diri menabrakkan mobilnya ke dalam kantor pemeriksaan. Empat petugas keamanan tewas," kata kepala polisi Peshawar, Sifwat Ghayyur kepada Reuters.

Namun demikian, para saksi mata mengatakan, tujuh orang, termasuk lima petugas keamanan dan dua penduduk sipil tewas.

Peshawar adalah ibukota Provinsi Perbatasan Barat Laut (NWFP), yang dikenal selama ini bergejolak.

Pasukan keamanan Pakistan sedang bertempur menghadapi kelompok garis keras Taliban di wilayah pegunungan NWFP, di mana para pejuang mulai memperluas pengaruhnya setelah melakukan kesepakatan dengan pihak pemerintah untuk pemberlakuan hukum syariah Islam.

Perjanjian Februari lalu dan menyebarkan pengaruh Taliban telah meningkatkan tanda bahaya bagi Amerika Serikat (AS) mengenai kemampuan persenjataan nuklir Pakistan, untuk meningkatkan sikapnya terhadap gerilyawan. Ini penting dalam upaya menciptakan stabilitas di Afgfhanistan.(*)

Friday, May 01, 2009

Taliban Culik 10 Tentara Paramiliter di Pakistan

Peshawar, Pakistan (ANTARA News/AFP) - Para gerilyawan Taliban , Jumat, menculik 10 tentara paramiliter dari markas lokal mereka di sebuah kota Pakistan barat laut yang berbatasan dengan Lembah Swat yang kacau, kata polisi.

Penculikan itu terjadi di kota Dir, Dir Hulu , distrik Malakand- di mana militer pekan ini melakukan serangan terhadap gerilyawan Taliban di distrik-distrik Dir Hilir dan Buner.

Lebih dari 60 gerilyawan Taliban menyerang markas paramiliter dan menangkap 10 personil sekitar pukul 01:00 waktu setempat (02:00 WIB) Jumat) , kata komandan polisi Dir Ijaz Ahmed kepada AFP.

Hanya ada beberapa personil di markas itu karena sebagian besar mereka dikerahkan ke lapangan, kata Ahmed.

Atiqur Rehman , kepala pemerintah distrik Dir Hulu mengkonfirmasikan bahwa lebih dari 50 gerilyawan bersenjata menyerang markas paramiliter Dir Levies dan menculik 10 personil.

Di Buner, para gerilywan awal pekan ini menduduki kantor-kantor polisi di tiga desa dan menahan 52 personil polisi dan tentara paramiliter di distrik itu, kata militer.(*)