Showing posts with label Pakistani Taliban. Show all posts
Showing posts with label Pakistani Taliban. Show all posts

Friday, May 08, 2009

Militer Pakistan Diperintahkan Lenyapkan "Teroris"

Peshawar, Pakistan (ANTARA News/AFP) - Pemerintah Pakistan hari Kamis memerintahkan militer melenyapkan "teroris", sementara pasukan darat dan udara terus menggempur posisi militan yang disebut Washington sebagai ancaman bagi keberadaan negara yang bersenjatakan nuklir itu.

Helikopter-helikopter serang dan pesawat tempur membom sejumlah lokasi yang dicurigai sebagai tempat persembunyian Taliban di Lembah Swat selama pertempuran paling mematikan untuk menguasai distrik wilayah baratlaut itu sejak pemerintah mencapai sebuah perjanjian perdamaian pada Februari dengan kelompok garis keras.

Perdana Menteri Yousuf Raza Gilani menyampaikan pidato di televisi yang mendesak rakyat negara itu bersatu melawan kelompok ekstrim, yang menurutnya mengancam kedaulatan negara itu dan yang melanggar perjanjian perdamaian dengan melancarkan serangan-serangan.

Perjanjian yang kontroversial antara pemerintah dan ulama garis keras pro-Taliban untuk memberlakukan hukum Islam di sebuah kawasan di Pakistan baratlaut yang berpenduduk tiga juta orang seharusnya mengakhiri pemberontakan Taliban yang telah berlangsung hampir dua tahun.

"Untuk memulihkan kehormatan dan martabat negeri kita, dan untuk melindungi rakyat, maka angkatan bersenjata diperintakan melenyapkan militan dan teroris," kata Gilani, yang mengenakan pakaian tradisional Pakistan.

Ribuan warga sipil telah meninggalkan Swat, daerah yang dulu tujuan wisata dan kini menjadi markas Taliban, dengan berjalan kaki atau naik kendaraan untuk menghindari pertempuran, dan Palang Merah memperingatkan bahwa krisis kemanusiaan sedang memuncak.

Sehari sebelumnya, Rabu, 35 militan tewas dalam operasi militer di Lembah Swat di wilayah baratlaut -- pertempuran paling mematikan di distrik itu sejak sebuah perjanjian perdamaian itu ditandatangani pada Februari.

Seorang pejabat militer di daerah tersebut mengatakan, militan-militan itu tewas dalam serangan darat dan udara di lembah yang pernah menjadi pesona wisatawan itu.

Kawasan suku Pakistan, terutama Bajaur, dilanda kekerasan sejak ratusan Taliban dan gerilyawan Al-Qaeda melarikan diri ke wilayah itu setelah invasi pimpinan AS pada akhir 2001 menggulingkan pemerintah Taliban di Afghanistan.

Pemimpin Al-Qaeda di Pakistan dan deputinya tewas pada 1 Januari dalam serangan udara yang diduga dilakukan pesawat tak berawak AS di Waziristan Selatan, menurut sejumlah pejabat keamanan setempat.

Para pejabat yakin bahwa Usama al-Kini, yang disebut-sebut sebagai pemimpin operasi Al-Qaeda di Pakistan, mendalangi serangan bom truk terhadap Hotel Marriott di Islamabad pada September lalu, dan memiliki hubungan dengan serangan-serangan bom pada 1998 terhadap Kedutaan Besar AS di Afrika.

Pasukan Amerika menyatakan, daerah perbatasan Pakistan digunakan kelompok militan sebagai tempat untuk melakukan pelatihan, penyusunan kembali kekuatan dan peluncuran serangan terhadap pasukan koalisi di Afghanistan.

Pakistan mendapat tekanan internasional yang meningkat agar menumpas kelompok militan di wilayah baratlaut dan zona suku di tengah meningkatnya serangan-serangan lintas-batas pemberontak terhadap pasukan internasional di Afghanistan.

Pakistan menempatkan sekitar 120.000 prajurit di sepanjang perbatasan itu dan menekankan bahwa tanggung jawab menghentikan penyusupan juga bergantung pada pasukan keamanan yang berada di Afghanistan.

Menurut militer Pakistan, lebih dari 1.500 militan tewas sejak mereka melancarkan ofensif di Bajaur pada awal Agustus, termasuk komandan operasional Al-Qaeda di kawasan itu, Abu Saeed Al-Masri yang berkebangsaan Mesir.

Daerah itu juga dihantam serangan rudal yang hampir mengenai Ayman al-Zawahiri, orang kedua Osama bin Laden, pada Januari 2006.

Terdapat sekitar 70.000 pengungsi Afghanistan di Bajaur, yang tinggal di sana sejak akhir 1970-an setelah mereka melarikan diri dari invasi Uni Sovyet ke Afghanistan.(*)

Thursday, May 07, 2009

Afghanistan, Pakistan in new anti-militant front: Obama

05/07/09 06:44
by Stephen Collinson

Washington (ANTARA News/AFP) - President Barack Obama Wednesday said the leaders of Pakistan and Afghanistan had forged a new front against extremists, but Afghan deaths in US raids cast a pall over a high-stakes summit here.

Obama gathered Afghan President Hamid Karzai and Pakistani leader Asif Ali Zardari for one-on-one talks, and a trilateral summit, hoping to ease years of mistrust between the neighbors in the name of defeating the Taliban.

"I'm pleased that these two men, elected leaders of Afghanistan and Pakistan, fully appreciate the seriousness of the threat that we face, and have reaffirmed their commitment to confronting it," Obama said.

Secretary of State Hillary Clinton meanwhile said the talks, which will continue at cabinet level Thursday, were showing "very promising early signs."

Obama called the three-way meetings as he pushes for a combined drive between Pakistan and Afghanistan to crush the Taliban and Al-Qaeda.

For his part Zardari is seeking US military aid and political support, while Karzai hopes to purge Taliban havens in Pakistan, which are destabilizing his country.

The talks came amid fresh waves of deadly clashes in Pakistan's Swat valley in which the military said it had killed more than 80 militants in an upsurge of fighting on Wednesday.

Pakistan's cash-strapped government was making emergency preparations to shelter up to 500,000 people expected to flee Swat and local officials said tens of thousands had already left the district's main town.

The talks also coincided with fresh reports from Afghan police that US-led air strikes targeting insurgents had killed 100 people, most of them civilians, in one of the deadliest battles in nearly eight years.

The US military opened an investigation into the operation overnight Monday in the remote western province of Farah, and Karzai ordered his government to probe reports of high civilian casualties.

"I made it clear that the United States will work with our Afghan and international partners to make every effort to avoid civilian casualties," Obama said after talks with the two presidents.

Clinton, who met the two leaders before Obama, also added condolences.

"I wish to express my personal regret and certainly the sympathy of our administration on the loss of civilian life in Afghanistan," she said.

"We deeply regret it. We don't know all of the circumstances or causes. And there will be a joint investigation by your government and ours," Clinton told Karzai.

But Clinton also expressed hope the Washington talks would renew the battered joint effort to combat extremism.

"I am very optimistic that this process is making a difference," Clinton said, though she added she was aware that a few meetings could not on their own solve the myriad of issues confronting the two nations.

"Both presidents spoke very movingly about the threat and dangers of terrorism," Clinton said, adding she was "extremely impressed" by the candor of the two leaders and their delegations.

Clinton said on Wednesday she was impressed with recent efforts by Pakistan to fight extremism, following her recent harsh criticisms of its conduct.

"Well, I'm actually quite impressed by the actions that the Pakistani government is now taking," Clinton said, adding there was a "resolve going forward" in Islamabad's struggle against the Taliban.

Last month, Clinton warned that Pakistan was "abdicating" to the Taliban by allowing extremists to impose Islamic law in parts of the country.

Ten days ago, Pakistan launched offensives in Buner and Lower Dir districts to flush out advancing armed Taliban.

Islamabad had been heavily criticized for a February deal which put three million people in the northwest under sharia law in a bid to end an uprising, which instead saw the Taliban push further south towards the capital.

Zardari sounded a strong note of support for the common fight against insurgents.

"We stand with our brother Karzai and the people of Afghanistan against this common threat, this menace, which I have called a cancer," Zardari said.

He said Pakistan bore a "huge burden" in fighting both the Taliban and Al-Qaeda, but added "we are up to the challenge because we are the democracy and democracy is the only cure to this challenge."(Ant)

35 Militan Tewas Dalam Serangan Pasukan Pakistan di Swat

Islamabad (ANTARA News/AFP) - Pakistan menyatakan, 35 militan tewas Rabu dalam operasi militer di Lembah Swat di wilayah baratlaut -- pertempuran paling mematikan di distrik itu sejak sebuah perjanjian perdamaian ditandatangani pada Februari.

"Ada 35 militan yang tewas di daerah dekat tambang zamrud itu," kata jurubicara militer Mayjen Athar Abbas kepada AFP.

"Itu merupakan aksi balasan setelah militan menyerang pasukan dan bangunan pemerintah," tambahnya.

Seorang pejabat militer di daerah tersebut mengatakan, militan-militan itu tewas dalam serangan darat dan udara di lembah yang pernah menjadi tujuan wisata itu. Swat terletak di Pakistan baratlaut dimana kelompok garis keras Taliban mengobarkan pemberontakan berdarah selama dua tahun.

"Kami menggunakan meriam dan helikopter untuk melakukan pemboman dan kemudian mengerahkan pasukan kami ke daerah tersebut," kata pejabat itu, yang menegaskan bahwa daerah tambang itu telah dikuasai kembali.

Ada laporan-laporan mengenai kematian warga sipil dalam pertempuran Rabu, namun pejabat itu menyatakan tidak memiliki penjelasan terinci lebih lanjut.

Pejabat-pejabat setempat mengatakan, lebih dari 40.000 orang meninggalkan kota utama Swat, Mingora, dalam 24 jam terakhir ketika pertempuran berkobar.

Pasukan keamanan Pakistan akhir bulan lalu melancarkan dua ofensif militer, di Lower Dir dan Buner, daerah-daerah dekat Swat dimana gerilyawan bersenjata Taliban berusaha mendorong pemberlakuan hukum Islam.

Sebuah pernyataan militer mengatakan, serangan-serangan militan terhadap pasukan keamanan di Swat merupakan "pelanggaran berat" atas perjanjian perdamaian dan empat prajurit teweas dalam pertempuran di Swat sejak Selasa.

Serangan-serangan militan di Pakistan, negara sekutu penting AS, menewaskan lebih dari 1.700 orang di negara itu, terutama di kawasan suku baratlaut, sejak Juli 2007.

Kawasan suku Pakistan, terutama Bajaur, dilanda kekerasan sejak ratusan Taliban dan gerilyawan Al-Qaeda melarikan diri ke wilayah itu setelah invasi pimpinan AS pada akhir 2001 menggulingkan pemerintah Taliban di Afghanistan.

Pemimpin Al-Qaeda di Pakistan dan deputinya tewas pada 1 Januari dalam serangan udara yang diduga dilakukan pesawat tak berawak AS di Waziristan Selatan, menurut sejumlah pejabat keamanan setempat.

Para pejabat yakin bahwa Usama al-Kini, yang disebut-sebut sebagai pemimpin operasi Al-Qaeda di Pakistan, mendalangi serangan bom truk terhadap Hotel Marriott di Islamabad pada September lalu, dan memiliki hubungan dengan serangan-serangan bom pada 1998 terhadap Kedutaan Besar AS di Afrika.

Pasukan Amerika menyatakan, daerah perbatasan Pakistan digunakan kelompok militan sebagai tempat untuk melakukan pelatihan, penyusunan kembali kekuatan dan peluncuran serangan terhadap pasukan koalisi di Afghanistan.

Pakistan mendapat tekanan internasional yang meningkat agar menumpas kelompok militan di wilayah baratlaut dan zona suku di tengah meningkatnya serangan-serangan lintas-batas pemberontak terhadap pasukan internasional di Afghanistan.

Pakistan menempatkan sekitar 120.000 prajurit di sepanjang perbatasan itu dan menekankan bahwa tanggung jawab menghentikan penyusupan juga bergantung pada pasukan keamanan yang berada di Afghanistan.

Menurut militer Pakistan, lebih dari 1.500 militan tewas sejak mereka melancarkan ofensif di Bajaur pada awal Agustus, termasuk komandan operasional Al-Qaeda di kawasan itu, Abu Saeed Al-Masri yang berkebangsaan Mesir.

Daerah itu juga dihantam serangan rudal yang hampir mengenai Ayman al-Zawahiri, orang kedua Osama bin Laden, pada Januari 2006.

Terdapat sekitar 70.000 pengungsi Afghanistan di Bajaur, yang tinggal di sana sejak akhir 1970-an setelah mereka melarikan diri dari invasi Uni Sovyet ke Afghanistan.(*)

Tuesday, May 05, 2009

Empat Tewas Dalam Serangan Bom Mobil di Pakistan

Peshawar, Pakistan, (ANTARA News) - Seorang pelaku serangan bom bunuh diri menabrakkan mobilnya ke dalam satu pos pemeriksaan polisi di dekat kota Pakistan, Peshawar, menewaskan sedikitnya empat petugas keamanan, kata polisi.

Serangan tersebut terjadi di perbatasan Peshawar dan Khyber, satu wilayah suku yang bergolak di perbatasan dengan Afghanistan.

"Pelaku bom bunuh diri menabrakkan mobilnya ke dalam kantor pemeriksaan. Empat petugas keamanan tewas," kata kepala polisi Peshawar, Sifwat Ghayyur kepada Reuters.

Namun demikian, para saksi mata mengatakan, tujuh orang, termasuk lima petugas keamanan dan dua penduduk sipil tewas.

Peshawar adalah ibukota Provinsi Perbatasan Barat Laut (NWFP), yang dikenal selama ini bergejolak.

Pasukan keamanan Pakistan sedang bertempur menghadapi kelompok garis keras Taliban di wilayah pegunungan NWFP, di mana para pejuang mulai memperluas pengaruhnya setelah melakukan kesepakatan dengan pihak pemerintah untuk pemberlakuan hukum syariah Islam.

Perjanjian Februari lalu dan menyebarkan pengaruh Taliban telah meningkatkan tanda bahaya bagi Amerika Serikat (AS) mengenai kemampuan persenjataan nuklir Pakistan, untuk meningkatkan sikapnya terhadap gerilyawan. Ini penting dalam upaya menciptakan stabilitas di Afgfhanistan.(*)

Friday, May 01, 2009

Taliban Culik 10 Tentara Paramiliter di Pakistan

Peshawar, Pakistan (ANTARA News/AFP) - Para gerilyawan Taliban , Jumat, menculik 10 tentara paramiliter dari markas lokal mereka di sebuah kota Pakistan barat laut yang berbatasan dengan Lembah Swat yang kacau, kata polisi.

Penculikan itu terjadi di kota Dir, Dir Hulu , distrik Malakand- di mana militer pekan ini melakukan serangan terhadap gerilyawan Taliban di distrik-distrik Dir Hilir dan Buner.

Lebih dari 60 gerilyawan Taliban menyerang markas paramiliter dan menangkap 10 personil sekitar pukul 01:00 waktu setempat (02:00 WIB) Jumat) , kata komandan polisi Dir Ijaz Ahmed kepada AFP.

Hanya ada beberapa personil di markas itu karena sebagian besar mereka dikerahkan ke lapangan, kata Ahmed.

Atiqur Rehman , kepala pemerintah distrik Dir Hulu mengkonfirmasikan bahwa lebih dari 50 gerilyawan bersenjata menyerang markas paramiliter Dir Levies dan menculik 10 personil.

Di Buner, para gerilywan awal pekan ini menduduki kantor-kantor polisi di tiga desa dan menahan 52 personil polisi dan tentara paramiliter di distrik itu, kata militer.(*)

Sunday, April 26, 2009

AS Cemas Taliban dan Al Qaeda Kuasai Senjata Nuklir Pakistan

26/04/09 16:14
Washington (ANTARA/ News)- Senjata nuklir Pakistan saat ini dalam keadaan aman, tetapi Washington "cemas" atas apa yang mungkin akan terjadi jika kelompok gerilyawan Taliban menggulingkan pemerintah itu, kata Menlu AS Hillary Clinton dalam wawancara dengan stasiun televisi Fox News, Sabtu waktu setempat.

Keamanan persenjataan nuklir Pakistan adalah "satu masalah yang kami tetap sangat yakin telah dijamin oleh militer dan pemerintah Pakistan. "Kami telah banyak bekerja selama beberapa tahun belakangan ini mengevaluasi itu," kata Hillary kepada Fox News dalam satu wawancara di Baghdad seperti dikutip oleh AFP.

"Saya kira menurut pemerintah kami adalah senjata nuklir itu aman," katanya menurut transkrip wawancara itu.

"Salah satu dari kekuatiran-kekuatiran terburuk kami yang kami telah kemukakan kepada pemerintah dan militer Pakistan adalah yang terburuk yaitu gerak maju Taliban yang dibantu dan didukung Al Qaidah dan kelompok-kelompok garis keras lainnya menggulingkan pemerintah karena gagal mengusir mereka-- maka mereka memiliki kunci-kunci bagi persenjataan nuklir Pakistan," kata Hillaru.

Lebih dari 1.000 orang tewas dalam gelombang serangan Al Qaidah dan kelompok garis keras yang punya hubungan dengan Taliban di seluruh Pakistan sejak Juli 2007, ketika militer menyerbu sebuah Masjid Merah di Islamabad .

Amerika Serikat, Kamis menyatakan kekuatirannya atas gerak maju Taliban di Pakistan.(*)

Friday, April 24, 2009

Tentara Pakistan Diserang di Distrik Yang Dikuasai Taliban

24/04/09 04:10
Islamabad (ANTARA News/Reuters) - Sejumlah pria tak dikenal telah menyerang tentara paramiliter Pakistan yang dikerahkan Kamis ke sebuah distrik yang sebenarnya telah dimbilalih oleh Taliban, satu hari setelah Washington mengatakan Islamabad telah tunduk pada gerilyawan di wilayah itu.

Sekitar 100 tentara paramiliter telah dikirim ke distrik Buner, tidak jauh dari Islamabad, kata polisi. Segera setelah mereka tiba, gerilyawan menyerang konvoi mereka, membunuh seorang polisi yang mengawal mereka, kata Arsala Khan, wakil superintendent polisi.

"Satu pleton Korp Perbatasan telah tiba di Buner untuk membantu polisi menjaga keamanan di distrik itu," kata Khan.

Kekerasan yang meningkat di Pakistan dan meluasnya pengaruh Taliban di bagian baratlaut negara itu telah menghidukan kembali kekhawatiran mengenai stabilitas negara bersenjata nuklir itu, yang sangat penting bagi upaya AS untuk menstabilkan tetangganya Afghanistan.

Setelah gagal menumpas pasukan Taliban di wilayah itu, Presiden Asif Ali Zaedari pekan lalu menyetujui penerapan hukum syariah Islam di Lembah Swat dan daerah sekitarnya meskipun ada kecaman dari negara-negara Barat serta kelompok liberal dan HAM Pakistan.

Menlu AS Hillary Clinton mengatakan, Rabu, pemerintah telah tunduk pada Taliban dengan menyetujui perjanjian Swat, dan menambahkan negara itu sekarang mengajukan "ancaman besar sekali" pada dunia.

Pemimpin para kepala staf gabungan AS, Mike Mullen, telah bertemu dengan pemimpin militer Pakistan Jenderal Ashfaq Kayani dan beberapa pejabat militer lainnya serta membicarakan masalah keamanan, seorang pejabat militer mengatakan tanpa menyebut nama. Mullen tiba di Pakistan untuk kunjungan singkat Rabu.

Dalam beberapa hari pengumuman pemerintah mengenai penerapan hukum syariah di Swat, 115 Km di baratlaut Islamabad, gerilyawan telah memaksakan jalan mereka ke Buner yang berdekatan, lebih dekat ke ibukota Islamabad. Mereka mengatakan tujuan mereka adalah untuk mendesakkan versi Islam mereka yang keras di negara itu.

Sejumlah warga mengatakan Taliban telah menduduki pos-pos polisi di Buner dan bahwa para petempur yang memikul senjata telah menjelajahi tempat seperti pasar minta orang untuk mendukung upaya mereka menerapkan hukum Islam.


Pasar keuangan

Saham-saham Pakistan ditutup pada level tiga persen lebih rendah Kamis karena kekhawatiran akan meluasnya pengaruh Taliban, kata pialang.

"Investor mengkhawatirkan mengenai masalah Taliban dan khawatir akan kekerasan lagi," kata Tauseek Ladak, seorang pialang di Taurus Securities Ltd.

PM Yousaf Raza Gilani menegaskan kembali Kamis bahwa pemerintah telah menyetujui hukum Islam di Swat atas nasehat sebuah partai sekuler yang memimpin pemerintah provinsi itu, tapi pemerintah dapat meninjau kembali perjanjian tersebut jika perdamaian tidak pulih.

Beberapa polisi yang mendesak pemerintah untuk menerapkan hukum syariah bahkan mulai menyampaikan kekhawatiran mengenai pengaruh Taliban yang bertambah.

"Jika Taliban meneruskan kemajuan mereka pada langkah sekarang ini, mereka akan segera mengetuk pintu Islamabad," Fazl-ur-Rehman, pemimpin Jamiat-e-ulema-e-Islam, partai Islam terbesar negara itu, pada parlemen, Rabu.

Gerilyawan Kamis dini hari membakar tujuh trek yang membawa bahan bakar untuk pasukan Barat di Afghanistan di pinggiran kota Peshawar di Pakistan baratlaut, polisi menambahkan.(Ant)

Thursday, April 23, 2009

11 Militan Tewas Dalam Serangan Pasukan Pakistan

23/04/09 23:13

Islamabad (ANTARA News/AFP) - Pasukan Pakistan hari Kamis membunuh 11 militan Taliban di sebuah daerah suku Pakistan baratlaut dan menghancurkan hampir selusin tempat persembunyian mereka, kata militer.

Dalam insiden lain, puluhan gerilyawan Taliban menyerang sebuah pangkalan truk bahan bakar NATO, juga di Pakistan baratlaut, dan melarikan diri setelah menghancurkan enam kendaraan tersebut, kata polisi.(Ant)

Sunday, April 19, 2009

12 Militan Tewas Dalam Serangan Udara Pakistan

19/04/09 23:47

Peshawar, Pakistan (ANTARA News/AFP) - Sejumlah jet dan helikopter Pakistan menyerang lokasi yang diduga pangkalan gerilya di sebuah daerah suku di perbatasan Afghanistan, Minggu, menewaskan sedikitnya 12 militan, kata seorang pejabat militer.

Serangan udara di dekat daerah Ghiljo di distrik suku Orakzai itu dilakukan sehari setelah serangan bom bunuh diri yang diklaim Taliban menewaskan lebih dari 20 personel keamanan di kota berdekatan Hangu, kata pejabat itu.

"Kami mendapat informasi mengenai keberadaan militan di daerah perbukitan sekitar," kata seorang perwira militer senior kepada AFP.

"Kami mengerahkan jet dan helikopter dan sedikitnya empat pangkalan Taliban hancur dalam pemboman itu," kata pejabat yang tidak bersedia disebutkan namanya itu.

"Informasi yang kami peroleh adalah 12 militan tewas dan jumlah korban akhir mungkin meningkat," tambahnya.

Sabtu, seorang penyerang bunuh diri menabrakkan kendaraannya yang dipasangi bom ke sebuah pos pemeriksaan kota Doaba di distrik Hangu, Pakistan baratlaut, menewaskan sedikitnya 20 personel keamanan, kata beberapa pejabat.

Seorang jurubicara panglima perang Taliban Baitullah Mehsud mengklaim bertanggung jawab atas serangan bunuh diri itu dengan mengatakan, pemboman tersebut dilakukan sebagai pembalasan atas serangan rudal AS yang dilakukan pesawat tak berawak.

"Kami akan terus melancarkan serangan-serangan bunuh diri sampai serangan pesawat tak berawak AS dihentikan," kata wakil Mehsud, Hakimullah Mehsud, kepada wartawan melalui telefon.

Serangan-serangan militan di Pakistan, negara sekutu penting AS, menewaskan lebih dari 1.700 orang di negara itu, terutama di kawasan suku baratlaut, sejak Juli 2007.

Kawasan suku Pakistan, terutama Bajaur, dilanda kekerasan sejak ratusan Taliban dan gerilyawan Al-Qaeda melarikan diri ke wilayah itu setelah invasi pimpinan AS pada akhir 2001 menggulingkan pemerintah Taliban di Afghanistan.

Pemimpin Al-Qaeda di Pakistan dan deputinya tewas pada 1 Januari dalam serangan udara yang diduga dilakukan pesawat tak berawak AS di Waziristan Selatan, menurut sejumlah pejabat keamanan setempat.

Para pejabat yakin bahwa Usama al-Kini, yang disebut-sebut sebagai pemimpin operasi Al-Qaeda di Pakistan, mendalangi serangan bom truk terhadap Hotel Marriott di Islamabad pada September lalu, dan memiliki hubungan dengan serangan-serangan bom pada 1998 terhadap Kedutaan Besar AS di Afrika.

Pasukan Amerika menyatakan, daerah perbatasan Pakistan digunakan kelompok militan sebagai tempat untuk melakukan pelatihan, penyusunan kembali kekuatan dan peluncuran serangan terhadap pasukan koalisi di Afghanistan.

Pakistan mendapat tekanan internasional yang meningkat agar menumpas kelompok militan di wilayah baratlaut dan zona suku di tengah meningkatnya serangan-serangan lintas-batas pemberontak terhadap pasukan internasional di Afghanistan.

Pakistan menempatkan sekitar 120.000 prajurit di sepanjang perbatasan itu dan menekankan bahwa tanggung jawab menghentikan penyusupan juga bergantung pada pasukan keamanan yang berada di Afghanistan.

Menurut militer Pakistan, lebih dari 1.500 militan tewas sejak mereka melancarkan ofensif di Bajaur pada awal Agustus, termasuk komandan operasional Al-Qaeda di kawasan itu, Abu Saeed Al-Masri yang berkebangsaan Mesir.

Daerah itu juga dihantam serangan rudal yang hampir mengenai Ayman al-Zawahiri, orang kedua Osama bin Laden, pada Januari 2006.

Terdapat sekitar 70.000 pengungsi Afghanistan di Bajaur, yang tinggal di sana sejak akhir 1970-an setelah mereka melarikan diri dari invasi Uni Sovyet ke Afghanistan.(Ant)

20 Tentara Pakistan Tewas oleh Bom Bunuh Diri

19/04/09 05:33
Peshawar, Pakistan (ANTARA News/AFP) - Seorang penyerang bunuh diri telah meledakkan bom mobil di sebuah pos pemeriksaan di satu Pakistan barat laut Sabtu, menewaskan sedikitnya 20 personel pasukan keamanan, demikian beberapa pejabat di daerah genting itu, Minggu.

Taliban kemudian menyatakan bertanggungjawab atas serangan di Doaba, kota di distrik suku Hangu yang resah dan sekitar 70 Km di baratdaya ibukota provinsi Peshawar tidak jauh dari perbatasan Afghanistan, itu.

Sedikitnya 20 anggota pasukan keamanan dan polisi tewas dalam serangan bunuh diri itu dan 10 orang lain luka-luka, kata seorang pejabat keamanan.

"Sebagian besar dari korban adalah anggota pasukan keamanan dan beberapa polisi," kata pejabat itu sambil menambahkan bahwa pos pemeriksaan polisi dan militer berada dalam jarak yang berdekatan.

Pejabat keamanan lain mengatakan pasukan itu memiliki data intelijen mengenai kemugkinan serangan bunuh diri dan telah menambah pos pemeriksaan ketika pemboman terjadi.

Menyusul serangan itu pasukan keamanan segera mengepung tempat yang terletak dekat daerah suku Pakistan yang berbatasan dengan Afghanistan itu.

Bebeapa jam kemudian seorang komandan geriyawan Taliban yang dianggap sebagai sekutu dekat komandan perang Taliban Baitullah Mehsud menyatakan gerakan merekalah yang melakukan serangan itu.

"Kami melakukan serangan bunuh diri itu untuk membalas serangan pesawat AS," kata wakil Mehsud, Hakimullah Mehsud, kepada wartawan di Peshawar melalui telepon.

"Kami akan terus melancarkan serangan bunuh diri hingga serangan pesawat AS dihentikan," kata Hakimullah.

Baitullah Mehsud mengancam akan melancarkan serangan bunuh diri guna membalas serangan rudal AS yang ditujukan pada gerilyawan di daerah suku tersebut.

Pemerintah Pakistan mengatakan mereka juga sangat menentang serangan AS yang mana sedikitnya 37 dari mereka yang tewas sekitar 370 orang sejak Agustus 2008 itu. Pemerintah juga mengatakan serangan itu telah melanggar kedaulatan teritorialnya dan menebarkan kebencian mendalam dari rakyat Pakistan.

Presiden Asif Ali Zardari, yang sekarang di China untuk menghadiri konferensi ekonomi internasional, mengutuk serangan itu dan berjanji membasmi terorisme dan ekstrimisme dari negara tersebut.

Sementara Perdana Menteri Yousuf Raza Gilani mengutuk keras insiden itu dan melukiskannya sebagai "aksi terorisme pengecut."

Pada pertemuan bantuan di Tokyo, Jumat, negara-negara donor menjanjikan 5,28 miliar dolar untuk membantu menstabilkan Pakistan yang dihimpit kemiskinan dan dianggap sebagai negara garis depan dalam perang melawan ekstrimisme Islam.

Tentara keamanan Pakistan adalah sasaran utama gerilyawan garis keras yang menentang peran pemerintah dalam "perang atas teror" pimpinan AS dan lebih dari 1.500 anggota pasukan pemerintah telah dibunuh gerilyawan sejak 2002.

Banyak dari kekerasan itu berpusat di Pakistan barat laut, tempat militer memerangi kelompok garis keras Taliban dan Alqaida yang melarikan diri pada serangan pimpinan-AS 2002 di Afghanistan. (*)

Friday, April 10, 2009

Taliban Pakistan Hancurkan 6 Truk NATO

10/04/09 23:19
Peshawar, Pakistan (ANTARA News/AFP) - Militan yang diduga Taliban meledakkan sebuah bom di Pakistan baratlaut yang menghancurkan enam truk yang memasok bahan bakar bagi pasukan NATO di negara tetangga, Afghanistan, kata sejumlah pejabat, Jumat. Sekitar 35 truk minyak diparkir pada tengah malam di daerah Chamkani di luar Peshawar, ketika militan memasang bom di bawah salah satu kendaraan yang membawa solar, bensin dan bahan bakar pesawat, kata pejabat kepolisian Asmatullah Khan AFP.(*)

Tuesday, March 31, 2009

Taliban Pakistan Akui Serang Lahore

31/03/09 17:05
Peshawar, Pakistan, (ANTARA News) - Ketua Taliban Pakistan, Baitullah Mehsud, yang dirinya dihargai lima juta dolar bagi yang membekuknya, Selasa mengaku bertanggungjawab atas serangan yang terjadi di akademi kepolisian di Lahore.

"Kami mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. Ini adalah serangan balasan terhadap serangan-serangan pesawat tak berawak di daerah-daerah suku di Pakistan. Akan ada banyak lagi serangan-serangan demikian," kata Mehsud kepada AFP dalam pembicaraan per telepon dari suatu tempat yang tidak diketahui.

Para penyerang bersenjatakan senapan, granat dan berompi serangan bunuh diri Senin menyerbu pusat latihan kepolisian di dekat ibu kota kebudayaan Pakistan, Lahore, selama delapan jam.

Tujuh kadet polisi, seorang warga sipil dan empat penyerang tewas dalam serangan di Lahore itu. Serangan tersebut memicu ketakutan-ketakutan baru bahwa aksi kekerasan kembali merebak di wilayah suku di perbatasan Afghanistan, dan ke jantung Pakistan.

Mehsud juga mengaku bertanggung jawab atas suatu serangan bunuh diri di luar suatu kantor perwakilan polisi khusus di Islamabad. Serangan tersebut menewaskan seorang pada 23 Maret lalu, kemudian disusul serangan terakhir terhadap satu pos polisi di Bannu, Pakistan barat laut.(*)

Monday, March 30, 2009

Taliban Dicurigai Culik 11 Petugas Keamanan Pakistan

30/03/09 16:39
Islamabad, (ANTARA News) - Kelompok gerilyawan Taliban pada Minggu dicurigai menculik 11 petugas keamanan dari daerah suku Pakistan Khyber Agency, kata pejabat.

Angkatan bersenjata Taliban menyerang satu pos pemeriksaan di daerah Shin Qamar, di Khyber Agency, dan menculik beberapa petugas keamanan setempat yang dinamakan `Khasadars` ke suatu tempat yang tak diketahui, seperti diwartakan IRNA-OANA

Tak satu pun kelompok mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut tetapi para pejabat mengatakan Taliban berada di balik aksi penculikan itu.

Insiden ini terjadi dua hari setelah serangan bom yang mematikan di satu mesjid di Khyber Agency, yang menewaskan lebih dari 50 orang, termasuk 17 di antaranya petugas keamanan.

Para pemimpin suku setempat melancarkan pencarian terhadap petugas-petugas keamanan yang lenyap itu, setelah pemerintah selatan membantu mereka. Namun, operasi tersebut tidak berhasil.

Seorang pejabat mengatakan bahwa seorang pejabat kelas bawah, Mohammad Ali, di antara mereka yang diculik.

Aksi penculikan dan serangan terhadap pasukan keamanan makin meningkat di Khyber Agency dalam beberapa pekan terakhir ini, setelah Taliban meningkatkan aktivitasnya di wilayah itu.

Khyber Agency adalah juga rute pasokan untuk pasukan NATO yang dipimpin Amerika Serikat yang paling penting di Afghanistan, dan para gerilyawan secara teratur menjadikan truk-truk pengangkut barang pasokan itu sebagai target mereka.

Gerakan Taliban pekan lalu meminta semua pasukan keamanan yang ada di Khyber Agency agar mengosongkan pos pemeriksaan mereka di jalan raya yang menghubungkan Pakistan-Afghanistan, jika tidak mereka akan serang.(*)

Pria Bersenjata Serang Sekolah Pelatihan Polisi Pakistan

30/03/09 13:59

Lahore, Pakistan (ANTARA News) - Para penyerang yang bersenjatakan senapan dan granat menewaskan paling tidak delapan polisi di satu pusat pelatihan polisi di kota Lahore, Pakistan, Senin, kata polisi dan seorang pejabat keamanan.

Serangan itu terjadi kurang dari sebulan setelah 12 pria bersenjata menyerang tim kriket Sri Lanka di kota itu menewaskan enam personil polisi dan seorang sopir bus. Para pria bersenjata itu melarikan diri.

Pusat pelatihan yang diserang Senin itu terletak di pinggiran kota itu, di jalan raya menuju perbatasan dengan India.

Stasiun televisi mengatakan paling tidak beberapa penyerang mengenakan seragam polisi.

Beberapa pria bersenjata memasuki kompleks itu, melemparkan granat tangan dan kemudian mulai menembak," kata seorang pejabat badan intelijen.

"Mereka masih berada di gedung itu dan baku-tembak masih berlangsung," katanya seperti dikutip Reuters.

Ia mengatakan, 10 orang tewas dan 50 orang lagi cedera.

Seorang perwira polisi mengatakan paling tidak delapan polisi tewas.

Sebuah kendaraan lapis baja pengangkut pasukan (APC) memasuki kompleks itu dan terjadi baku-tembak termasuk apa yang agaknya satu satu ledakan granat, kata seorang jurufoto Reuters di lokasi itu. APC kemudian meninggalkan lokasi itu.

Polisi mengepung kompleks itu sementara sejumlah personil lain mengangkut mereka yang cedera ke ambulans.

Satu jaringan televisi menayangkan gambar sekitar 12 polisi yang tergeletak di lapangan parade, beberapa orang di antara mereka tewas. (*)

Kelompok Bersenjata Serang Pusdiklat Polisi Pakistan

30/03/09 10:40
Lahore, Pakistan (ANTARA News/AFP) - Kelompok bersenjata, Senin, menyerang pusat pendidikan dan latihan polisi Pakistan dekat kota Lahore di Pakistan timur, demikian polisi, Senin.

"Orang-orang bersenjata yang tak dikenal telah menyerang pusat pelatihan polisi, kami telah meminta bantuan satuan polisi elite," kata perwira polisi senior Mumtaz Sukhera kepada wartawan.

"Kami belum mengetahui (berapa banyak) korban," kata Sukhera, namun sumber-sumber seperti dikutip televisi pemerintah menyebutkan empat polisi tewas akibat serangan itu.

Pusat pelatihan polisi ini berada di luar kota Lahore di sebuat tempat yang dinamai Manawan. Tayangan langsung televisi menunjukan tubuh-tubuh polisi bertiarap di tengah serunya baku tembak.

Polisi mengepung kawasan luar pusat pelatihan polisi itu begitu pasukan khusus dari kepolisian dan wahana berat pengangkut personel memasuki kawasan pusdiklat. (*)

Mantan Kepala Intelijen Pakistan Cela Obama

30/03/09 08:59
Islamabad (ANTARA News/IRNA-OANA) - Pidato Presiden AS Barack Obama bukan hanya mengecewakan banyak orang di Pakistan, tetapi menunjukkan dia tidak berbeda dari pendahulunya, kata mantan kepala dinas rahasia militer Pakistan baru-baru ini.

"Pidato Presiden Amerika tersebut menunjukkan bahwa ia rendah diri dan mengarah pada imperialis congkak. Sistem telah menyelimuti dirinya," kata Letjen (Purn) Hamid Gul.

Kepada wartawan, mantan direktur jenderal Dinas Intelijen Antar-Lembaga (ISI) ini mengatakan, penambahan tentara di Afghanistan hanya akan memperbesar masalah AS dan meramalkan kekalahan pasukan asing dalam waktu dua tahun.

Ia mengatakan tak ada negara adidaya yang dapat mengubah takdir (di Afghanistan) dan menyebut AS telah mencampuri urusan dalam negeri negara lain serta telah menentang pemulihan hakim yang dipecat oleh mantan presiden Pervez Musharraf.

"AS harus tunduk pada keinginan rakyat Pakistan," kata Gul. (*)

Saturday, March 28, 2009

Terminal Pasokan NATO di Pakistan Diserang

28/03/09 23:02
Islamabad (ANTARA News) - Sejumlah gerilyawan tak dikenal melancarkan serangan roket terhadap terminal pasokan pasukan NATO yang berpangkalan di Afghanistan di Pakistan barat laut Sabtu pagi, kata laporan saluran televisi swasta Geo News TV.

Terminal Farhad yang diserang itu terletak di jalan lingkar Peshawar, ibukota provinsi perbatasan barat laut.

Kelompok gerilyawan menembakkan empat roket terhadap terminal itu, yang kemudian membakar serta menghanguskan banyak truk yang diparkir di sana, menurut Geo News.

Laporan-laporan pers lokal mengatakan, sedikitnya tujuh kontainer terbakar di dalam serangan itu.

Kobaran api kemudian disebutkan berhasil dikuasai.

Pasukan Korp Perbatasan membalas serangan dan melepaskan tembakan ke arah gerilyawan. Kemudian, baku tembak dilaporkan berlangsung, namun tak seorang pun tewas, menurut laporan-laporan awal.

Truk-truk pemasok pasukan NATO itu telah diserang beberapa kali pada akhir tahun lalu, dan ratusan truk serta kontainer yang membawa barang-barang pasokan itu dihancurkan. (*)